Dear God,
We Want to Be The Sun or The Moon more than The Star

Ya Tuhan, Jadikanlah kami seperti Matahari, seperti Bulan dan seperti Bintang-Bintang


Terima kasih atas kunjungan anda!




Selasa, 31 Maret 2009

Tamune Wong Ndeso

Ing sakwijining dina, kancaku teka Jombang, Adi S ngabari menawa keluarga arep neng Yogya. Jarene meh pamitan sedulur saka Yogya sakdurunge Bapak lan Ibu ne budal neng tanah suci Mekkah. Amarga bapake kancaku iki asli teka Yogya tepate kota Bantul, tapi sisih ngendi aku dhewe ora ngerti. Aku sih gamang yen peta Ngayogyakarto sekitar, opo maneh Bantul. Nadyan mbak Ningsih, mbak Ipe asline ya teka Bantul aku lagi ngerti sithik kota Bantul.

Nah sakwise wis pamitan sedulur neng Bantul, kancaku Adi ngebel yen pengin ketemu, aku terus budal neng omahe Masku. Aku njaluk ketemu neng kono wae merga sakjalan yeng arep bali neng kota Jombang supaya ora pati adoh. Sakwise nunggu sadela aku ketemu neng pinggir dalan banjur ngarah mampir neng omahe Masku. Sakrombongan numpak mobil kijang, kancaku, bapak,ibu lan adhike 2, terus bulik, siji maneh sopir. Aku numpak mobil pisan sebagai penunjuk jalan, waktu iku aku njemput karo masku boncengan sepeda motor, motor digawa masku aku melu rombongan. Tekan omahe masku, banjur ngobrol sadela, durung nganti 10 menit wong tuane si Adi kepengin ketemu bapak lan simbokku. Aku malah bingung merga yen meh nang omahku perjalanan isih 1 jam, tur dalane ora sejalan yen bali neng Jombang. Gandheng kedereng pengin ketemu, akhire aku setuju aku terus mlaku dhisik nganggo sepeda motor. Dalane rada sempit, mobil ora isoh banter kurang teka 100KM/jam.

Kira-kira sak jam perjalanan tekan omahku, wong tuaku dadakan kaget merga ora persiapan. Biasane nek ono tamu gage-gage nyepakke pasugatan kanggo para tamu, paling orang wedang teh panas. Banjur ketemu bapak simbok terus salaman, para tamu diaturi tindak omah. Biasane nek nyambut tamu teka kota, simbok terus guyon yen omahe mung gubuk koyo uwoh, merga ya wong tani ndeso.

Sakwise sapejagong diselingi guyon-guyon, bapak ibuke Adi njaluk pangestu yen arep budal neng tanah suci. Bapak simbok banjur njawab muga-muga slamet, mangkat wutuh bali wutuh...! Sakjroning sapejagong adhike kancaku njupuk handycam terus wae nyorot lan ora keri kahanan njero ngomah ngarep lan mburi. Lan oleh-olehanane video kaya ing ngisor iki! Kadadeyan iki wis suwe, sakdurunge wulan haji tahun 2008.

Tilik Wong Wong Ndeso

Selasa, 24 Maret 2009

Pesan dari LP 2

Setelah hari Minggu lalu aku dan saudaraku belum berhasil menjenguk Ibu W di LP, hari Senin kami tak bisa dan akhirnya hari ini Selasa 24 Maret 2009 kesampaian juga tujuan kami. Pagi hari aku berangkat ke Solo setelah satu jam perjalanan naik motor sampai di kontrakan dimana saudaraaku tinggal. Saudaraku memulai usaha Qee Laundry di Pajang Surakarta setahun yang lalu, hingga aku sering kali diminta bantuan untuk memajukan usahanya.

Setelah sampai di sana aku diminta menunggu sebentar, saudaraku sendang menikmati koran harian di warung sebelah. Aku coba membaca buku yang terdapat di ruang tamu yang dijadikan sebagai kantor adminstrasi. Ruangannya cukup luas sehingga cocok untuk usaha sesuai dengan harga yang harus dibayar.

Akhirnya saudaraku muncul juga dari warung sebelah dan kamipun berkemas menuju ke LP, setelah 10 menit perjalanan motor akhirnya sampai juga. Aku menuju loket dan memperlihatkan KTP, aku pikir tulisan "Tidak Dipungut Biaya" sesuai dengan kenyataan? Tidak petugas meminta biaya 5 rbu, ketika aku tanyakan ke petugas mengenai tulisan yang tertera. Beliau agak marah, gratis jika membawa surat rekomendasi dari pihak berwajib, wah kalau harus ngurus lagi surat itu ribet juga. Tak mau berdebat aku pun menyerah dan kubayar 5 rbu rupiah tanpa kwintansi seperti yang dilakukan para pengunjung lainnya. Tinggal mengalikan pendapatan LP perhari sudah berapa uang yang masuk ke situ tanpa keterangan. Tak tahu juga untuk apa uang itu masuk kas negara atau salah masuk kantong pejabat?

LP Surakarta

Akhirnya kamipun masuk, dipintu masuk kami mendapatkan kartu bernomor 042 dan 153 untuk saudaraku. Kami harus memakainya selama memasuki LP, setelah melalui beberapa pemeriksaan kami dipersilahkan menunggu di ruangan/aula tempat para pengunjung dan napi bertemu. Di depan aula terdapat mushola yang sedang berlangsung acara pengajian kami pikir mereka para napi mendapatkan siraman rohani. Sebelum memasuki aula kami mengamati lingkungan disekitar LP, banyak terdapat blok kamar dan ruang lainnya. Kami coba membayangkan blok yang manakah Ibu W tinggal, kemudian kami memasuki aula dan dipersilahkan menunggu. Karena baru pertama kali berkunjung aku tanyakan kepada petugas yang sebagian juga para napi sendiri dan beberapa petugas resmi LP, bagaimana kami harus menunggu? Apa yang kami lakukan? Bagaimana kami bertemu Ibu W?Kami diminta menunggu di aula sebentar dan Ibu W akan diminta datang ke aula, dan kamipun bergabung dengan para pengunjung lain sembari mecari tempat yang kosong untuk duduk karena tak ada kursi distu, semua pengunjung menemui kerabat napi-nya dengan lesehan (lebih santai) menurutku. Tak berapa lama menunggu, kami melihat Ibu W masuk aula, aku perhatikan Ibu W masih bingung mencari! "Siapa yang mengunjunginya hari ini?" mungkin itu yang ada dalam pikirannya. Ketika kupanggil "Yu" dia masih belum menemukan kami, masih mencari keberadaan kami diantara pengunjung. Lalu kami mendekat dan memanggilnya, Ibu W kaget ketika melihat kami dan kemudian kulihat air mata mulai menetes dari kedua matanya, kamipun diam sebentar. Ibu W mengenakan kaos seragam napi warna biru muda memakai kerudung dikepala. Kamipun ikut sedikit larut dalam kesedihan atas apa yang menimpa, lalu kami duduk diantara pengunjung lainnya.

Ibu W tak mengira bahwa kamilah menjenguknya, karena sampai saat ini baru kami yang menjenguk di LP Solo (selain keluarganya). Saat dipanggil petugas tidak memberitahukan siapa yang menjenguk dan Ibu W juga lupa menanyakan hal itu. Segera saja dia berganti pakaian seragam napi sambil menenteng tas kresek yang telah dia persiapkan.

Ibu W menangis sambil mengisahkan nasib yang menimpa dirinya dan kami merasa iba, kami berusaha menghibur bahwa yang sudah terjadi biarlah. Nikmati hidup selama di LP dan berusaha untuk tabah. Bersama dengan penghuni LP lainnya diberi bekal untuk membuat kerajinan tangan. Sempat menunjukkan buah karyanya kepada kami sebuah accesoris pena terbuat dari untaian butir-butir mutiara tiruan. Ada empat buah accesoris dua warna hitam dan dua putih ditunjukkan kepada kami dan Ibu W berpesan untuk mengantarkannya kepada anaknya. Dan khusus untuk accesoris diperuntukkan anak yang masih sekolah SD, beberapa pakaian bagus pemberian seorang teman Ibu W yang sudah habis masa tahanan beberapa hari lalu. Aku berjanji untuk mengantarkan ke anak nya yang kedua, karena aku tahu tempat tinggalnya.

Kehidupan di LP

Ibu W merasa kesepian hidup di tahanan, apalagi jika teringat anaknya yang masih sekolah dasar. Apalagi dua bulan lalu sempat diperolok teman-temannya sehingga malu dan menangis, oleh kerabat dan para guru akhirnya anak tersebut dipindah sekolah. Ditempat buliknya (adik Ibu W) yang rumahnya agak jauh dari desa kami, agar si anak bisa sekolah dengan tenang.

Ibu W bercerita tentang kehidupan dia selama di LP bersama teman lainnya, di LP saat itu ada sekitar 700 narapidana dimana mayoritas adalah laki-laki. Dan juga beberapa anak remaja yang dititipkan disitu, kami sempat melihat sepintas seorang anak usia sekolah di luar aula. Ibu W mengatakan bahwa anak tersebut adalah temannya di LP karena pencurian lima HP.

Selama di LP dia rajin sembahyang dan shalat tahajud, kami tak bisa membayangkan bagaiana dia shalat malam. Ibu W adalah seorang muslimah yang buta huruf, sehingga kami tak bisa berkomentar banyak tentang hal ini. Aku hanya berpikir setiap manusia mempunyai tingkatan ilmu dan iman sendiri sendiri, tentu Allah sendiri yang bisa menilai. Menurutku hafalan/fasih bukanlah hal yang paling penting untuk kasus Ibu W ini, yang penting doa dalam hati. Bahkan malam tadi setelah shalat malam lalu tidur, dan melihat kami berdua datang mengunjunginya. Apa yang dia lihat dalam mimpi benar-benar nyata dan kami pun datang menjenguknya. Aku tak tahu relevansi antara mimpi dengan kenyataan, aku sendiri sering mengalami hal ini.

Aktivitas pagi hari dimulai dengan senam kemudian membersihkan lingkungan sekitar, di makan pagi sekitar jam 9. Untuk hiburan, mereka bisa menonton tv yang disediakan namun sifatnya terbatas. Untuk soal makanan, Ibu W merasa tak nyaman dengan menu yang ada. Maklum menu yang disajikan untuk mereka tidak lah standar sebagaimana Ibu W makan, apalagi nasinya, mungkin beras kualitas rendah. Jam 4 sore, para napi harus masuk ke sel tahanan sampai hari esok lagi, sehingga banyak diantara mereka yang kesepian. Di saat inilah mereka mengalami kesepian, tertekan, karena sendiri dan ada yang tak tahan sampai kemudian bunuh diri.

Perlakuan Istimewa

Selama ini Ibu W mendapatkan perlakuan agak istimewa dibanding dengan tahanan wanita lainnya. Mungkin karena Ibu W termasuk orang yang penurut, tak berbuat onar, sehingga para sipir wanita banyak yang iba dan memberikan nasehat kepadanya. Di saat terakhir kami banyak mendengarkan, aku pikir memang terlalu banyak unek-unek yang harus dia keluarkan. Saudaraku memberikan kode kepadaku untuk mengakhiri kunjungan, namun aku tak setuju, menunggu sampai jam besuk selesai. Kami mendengar keluhan Ibu W dan kami tidak menghiraukan para pengunjung yang lain, sepertinya yang ada di ruangan itu hanya kami bertiga.

Menurut informasi Ibu W akan di kenai sanksi hukuman selam tiga bulan sebagaimana kasus yang sama yang pernah terjadi. Tanggal 6 April akan diadakan sidang lagi, mungkin untuk keputusan masa hukuman, dan jika beruntung bisa mendapat keringangan seminggu karena kelakuan baik selama dalam masa tahanan.

Lalu seorang laki-laki berseragam biru muda (napi yang bertugas) memberitahukan kepada kami waktu kunjungan sudah habis, jika ingin perpanjang lagi harus bayar lima ribu rupiah. Akhirnya kami mengakhiri kunjungan dan Ibu W menitipkan tas kresek kepada ku. Setelah kami mohon diri kemudian dia kembali ke sel tahanan dan aku dan saudara meninggalkan aula, mengembalikan nomor pengunjung ke petugas dan pulang. Seteklah mengantar saudaraku ke Pajang lalu aku sendiri pulang. Dalam perjalanan aku merenung sambil memikirkan bagaimana aku menyampaikan amanat yang Ibu W titipkan kepadaku. Lalu aku putuskan ke rumah anak kedua Ibu W saja, sebelum pulang kerumah, lebih cepat lebih baik.

Menyampaikan Pesan

Satu jam perjalanan sampai juga di rumahnya, aku melihat pintu rumahnya berarti ada orang disana. Di depan rumah kulihat seorang nenek, lalu aku mendekat dan aku bertemu dengan orang yang kucari anak kedua dari Ibu W, usianya duapuluhan tahun. Menikah di usia sangat muda dan saat ini memiliki dua orang anak laki-laki, tinggal di lereng pegunungan yang nyaman. Tak lama kemudian datang seorang anak laki-laki kecil yang menghampiriku juga, aku kenal dia juga. Mungkin dia mendengar suara motor ku kemudian pulang dan mendekat, sempat aku bertanya padanya. Aku dipersilahkan masuk dan kulihat anak kecil tidur di alas tikar.

Rumah mereka sangat sederhana, tembok dari anyaman bambu, penyangga utanmanya kayu jati yang masih muda dan beberapa bagian kayu glugu. Sebuah keluarga sederhana pikirku! Aku kemudian mengatakan maksud kedatanganku, mengantar pesan dari orang tuanya Ibu W dan ku berikan tas kresek titipan dari Ibu W pada wanita itu. Dan aku katakan juga bahwa accesori pena khusus diberikan untuk adik D satu-satunya Wanita itu berterima kasih pada kami karena telah mengunjungi Ibu nya di LP. Aku juga mengatakan bawah, jika ingin mengunjungi Ibu di LP jangan hari Kamis besok karena hari Libur nasional. Wanita itu berencana berkunjung hari Jumat, aku mengingatkan kalau kunjungan bisa dilakukan di hari Senin-Kamis saja, untuk haru Jumat/Sabtu khusus pengunjung kasus narkoba.

Saat itu aku tak melihat suaminya M, lalu kutanyakan pada wanita itu. Suaminya sedang bekerja di tempat tetangga. Segera saja aku mohon diri untuk pulang, jalan yang kutempuh adalah berputar menyusuri jalan dibawah lereng pegunungan. Beberapa saat kemudian sampai rumah, ketemu simbok, lalu aku ceritakan apa yang kami alami. Akhirnya kesampaian juga menjenguk Ibu W di LP! Masih ada pesan Ibu W yang harus aku sampaikan kepada seorang yang masih kerabat dekatnya, bahwa Ibu W mengharap kedatangannya di LP Solo. Hari ini aku belum bisa menyampaikan pesan beliau, mungkin lain waktu saja. Meski Ibu W terlibat dalam tindak pidana, sampai saat ini aku hanya berpikir karena Ibu W tinggal di sebelah rumahku jadi aku harus menjenguknya.

Pesan dari LP: End

Pesan dari LP 1

Seorang tetangga (Ibu W)dekat masuk bui beberapa bulan lalu, karena urusan yang kecil (menurutku) mengambil sepeda milik orang tanpa sepengetahuan pemilik di pasar (kata orang). Ketahuan pemilik akhirnya dihakimi massa sebelum kemudian ditangani pihak kepolisian setempat. Jika dibanding dengan para koruptor mungkin apa yang dilakukan ibu ini tak seberapa (<500 ribu), pihak kepolisian hanya mampu mengusut mereka para pencuri kecil. Sedangkan para koruptor yang menjarah uang negara berjuta-juta bahkan bermilyar-milyar lolos begitu saja.

Ibu W adalah seorang janda 45 tahun yang mempunyai tiga orang anak perempuan, dua diantaranya sudah berkeluarga dan anak terakhir masih sekolah dasar kelas 5. Kehidupan memang pas-pasan apalagi tidak punya pekerjaan yang tetap, sebagaimana orang-orang di desa. Aku juga tidak tahu bagaimana keluarga itu bisa makan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Yang aku tahu rumah Ibu W ada disebelah rumahku dan dia sangat baik padaku. Tiap kali ketemu selalu menyapa dan tersenyum, kadang mengolok ketika aku mau pergi keluar rumah, hingga kejadian dua bulan lalu aku tak melihat dia di sekitar tetangga.

Seekor Kucing dalam Sumur

Yang aku ingat menjelang pagi hari/masih gelap keluarga Ibu W rame-rame karena ada masalah dengan sumurnya. Seekor kucing kecebur ke dalam sumur, Ibu W dan beberapa tetangga mencoba untuk mengambil si kucing dari sumur. Aku hanya mendengar kegaduahan suara mereka dari dalam rumah, aku tak tertarik dengan apa yang sedang terjadi. Aku tak tahu adakah relevansinya antara seekor kucing kecebur sumurnya kemudian di siang hari Ibu W kena urusan dengan polisi.

Aku mengetahuinya di sore hari dari kabar tetangga, karena tak tahu kejadian sebenarnya aku hanya bergumam, benarkah Ibu W mengambil milik orang lain lalu dihakimi massa dan ditahan kepolisian? Aku hanya mendengar mereka berkata begitu! Karena saat itu aku juga mempunyai persoalaan yang memerlukan konsentrasi, aku sedikit menghiraukan apa yang terjadi pada Ibu W. Hingga di malam hari aku mendapat sms dari anak keduanya untuk sedikit membantu menghubungi suaminya. Waktu itu aku tak bisa berbuat banyak, aku berusaha membantu sedikit lewat komunikasi handphone, sampai akhirnya aku menyerah saat itu. Di saat yang sama aku juga berusaha menyelesaikan persoalanku sendiri lewat handphone. Aku hanya punya satu pilihan persoalan untuk diselesaikan dan aku membiarkan waktu berjalan. Lagi pula untuk urusan birokrasi kepolisian aku sendiri tak paham, ada orang yang lebih pantas melakukan hal itu RT/RW/Lurah.

Ke Solo Lagi

Setelah permasalahanku sendiri selesai akhirnya aku dan saudaraku merencanakan untuk menjenguknya di Lembaga Pemasyarakatan. Dan sayangnya kami berusaha meluangkan waktu kami minggu ini. Kami ingin menjenguk Ibu W tidak diketahui oleh para tetangga dan para anaknya. Jadi hari minggu 22 Maret 2009 aku berusaha untuk mencari keberadaan Ibu W di LP mana? Akhirnya ide muncul untuk mulai menanyakan di Polsek setempat (Weru, Sukoharjo)dimana kejadian perkara terjadi. Pagi hari mendapat informasi dari Om Ripto bahwa pakde (kakak ipar simbok)sakit keras, dan kami sekeluargapun bingung juga. Rencana kami menjenguk Ibu W bisa tertunda, apalagi aku harus menjemput saudaraku di Solo sebagaimana kami janjikan sebelumnya. Akhirnya aku ke Solo menjemput saudara lalu dilanjutkan ke rumah pakde sekitar 5 KM dari rumah. Beruntung saat itu hari masih pagi sekitar jam 10, jadi waktu untuk menjenguk pakde dan Ibu W pasti cukup. Di rumah pakde selama dua jam memastikan bahwa keadaan pakde sudah baikan, akhirnya kami rencanakan untuk menjenguk Ibu W, padahal pagi hari aku pesimis bisa melakukannnya.

Kami pun mohon diri dan berangkat menuju polsek weru dan setelah menanyakan ke petugas piket, akhirnya dapat jawaban bahwa Ibu W kemungkinan sudah ditahan di LP Solo, atau di Polres Sukoharjo. Berbekal petunjuk pak polisi yang bertugas disitu kamipun menuju ke polres Sukoharjo dan sampai disana kami menanyakan pada petugas jaga. Seperti yang kami perkirakan sebelumnya ternyata sudah dipindahkan di LP Solo. Padahal pagi hari sudah ke solo, ni ke solo lagi, muter muter saja, tapi tak apa-apa kan sudah konsekuensi yang harus kami hadapi.

Lihat Kampanye PDI-P

Akhirnya menuju ke LP solo jalan Slamet Riyadi, namun sampai disana tanya petugas piket bahwa hari Minggu tak ada jam besuk. Seperti yang tertera di pengumuman, jam besuk hari Senin-Kamis untuk para napi umum jam 9 pagi sampai jam 1 siang, lalu untuk hari Jumat-Sabtu untuk tahanan narkoba. Membaca persyaratan identitas yang berlaku dan tidak dipungut biaya. Tak lupa kami menanyakan keberadaan Ibu W di LP tersebut pada petugas, setelah menunggu sebentar akhirnya kami mendapatkan jawaban positif bahwa ibu W memang ditahan disitu.

Meski tujuan menjenguk belum tercapai kami tidak kecewa, kebetulan hari itu kampanye partai PDI-P. Kami memesan kue srabi solo yang mangkal di depan LP, sambil menunggu hidangan siap kami mengamati konvoi kampanye.

Hari itu kami belum bisa menjenguk Ibu W, baru lihat LP makan srabi dan disuguhi kampanye PDI-P. Sekelompok anak muda berartibut PDI-P berpawai memenuhi jalan Slamet Riyadi Solo. Suara motornya yang telah dimodif memekakkan telinga membuat telinga orang sakit. Bagian depan seorang anak muda menunjukkan kebolehan dengan mengendarai motor dengan posisi terlentang, seperti tak punya rasa takut kalau jatuh kemudian terlindas dari rombongan di belakangnya. Aku tak paham dengan cara berpikir mereka, lain dunia

Continue : Pesan dari LP 1

Jumat, 20 Maret 2009

Mau Pake Kaos Dapat Rp 300.000,- ?

Mau uang dapat uang Rp 300.000,- pake kaos "I LOVE BALI" dulu warna putih

yang salah aku atau pak montir itu ya...?

Siang itu aku bergegas pergi ke bengkel motor, maklum sudah lama aku rencanakan untuk menservis motor kesayanganku. Dalam perjalanan ke bengkel sempat bingung juga karena ada rencana lain membeli sesuatu tapi masih bingung prioritas. Akhirnya aku putuskan ke bengkel dulu, dalam hati yang muncul motor kesayangan jadi prioritas pertama. Sampai di bengkel bingung lagi dengan suasana, terlihat beberapa antrian sepeda motor yang sedang diperbaiki. Dalam hati harus lapor dulu sama bigbosnya atau sama montirnya, beruntung seorang montir yang menanyakan langsung padakku. "Wonten menapa mas ? " langsung saja aku jawab " Ajeng service, Pak!" lalu jawaban balik datang "Oh nggih...!" Aku langsung duduk di kursi, kebetulan ada pelanggan yang sedang memperbaiki juga seklaian ganti Accu baru. Aku tertarik karena kelak aku juga berencana beli accu baru namun tidak untuk sekarang, tapi lain waktu. Maklum saat itu dompet masih tipis, Prioritas utama service mesin dan ganti lampu depan dan stop yang sudah beberapa minggu lampu mati jadi malas kalau keluar malam. Sedangkan accu untuk electric stater mungkin lain waktu, apalagi kakiku masih cukup kuat untuk menggunakan kick stater. Teringat sebelum punya sepeda motor, kemana-mana selalu menggunakan pit onthel/kebo. Gara-gara terpengaruh teknologi, sekarang mau gunakan pit kebo malu maunya yang keren sedikit sepeda federal atau mini. Tapi sayang kami tak punya keduanya, jadi motor satu-satunya saat ini bisa diajak muter-muter Solo-Yogya-Semarang sudah seneng. Apalagi motor kenang-kenangan waktu di luar pulau, "opo tumon motor kok naik pesawat terbang?" mungkin hanya satu-satunya di daerah kami. Atau mungkin karena aku yang bodoh, apa yang aku lakukan membuat aku mengeluarkan banyak biaya, mulai biaya ini dan itu. Ketika seseorang mengkomentari hal ini aku sudah punya jawaban. Ya "puas" meski kita harus membayar sedikit mahal. Di dunia ini bisa kita lihat, banyak orang rela membayar lebih untuk melakukan hal-hal yang simple/sepele. Bersusah payah untuk melakukan sesuatu yang membahayakan diri, mengeluarkan banyak uang dan rela dianggap gila untuk mencapai kepuasan. Kembali ke bengkel, aku berbincang dengan seseorang yang belum aku kenal mulai dengan basa-basi menanyakan "Njenengan servis nopo mas?", respon nya sangat bagus. Kemudian kami pun melanjutkan pembicaraan dengan menanyakan nama dan asal kami masing-masing. Namanya mas Marwan dari Burikan desa di lereng gunung kidul dimana aku sering lewat di situ untuk sekedar refreshing, ketika melihat pegunungan rasanya kepenatan hilang semua. Pembicaraan ke beberapa nama yang aku kenal (mas Sutikno- Potong Rambut dan mas Ripto), hingga tak terasa kami berbincang cukup lama. Aku menyebut bahwa mas Tikno dimana aku sering potong rambut ke beliau lumayan dapat bonus pijat di pundak dan wajah. Sedangkan mas Ripto aku mengatakan masih kerabat denga beliau, "memanfaatkan nama orang lain" untuk mendongkrak reputasiku. Sering kita menyebut nama seseorang/sahabat yang membuat reputasi kita menjadi naik, seperti nama pejabat, orang kaya, atau kerabat kita yang elit. Namun kita enggan untuk mengakui ketika ada seseorang yang rendah di mata masyarakat misal kerabat kita yang miskin, dan untuk yang satu ini kita cenderung menutup diri dan mengalihkan pembicaraan. Kembali lagi ke bengkel, akhirnya selesai juga sepeda mas Marwan di servis dan kemudian mohon diri. Kini tinggal aku sendiri menunggu giliran motorku di service, 10 menit 15 menit aku menunggu dan membuat aku tak sabar. Apalagi beberapa pelanggan lain datang untuk service motornya, namun kok motorku tak disentuh para montir. Aku justru melihat pelanggan yang datang sebelumku mendapatkan layanan service dulu. Aku lalu berniat menanyakan ke montir yang menanyaiku pertama kali aku kesini, bapak ini bagaimana dalam hati. Dan aku tanyakan " Pak menawi ajeng service kudu laporan mrika /kasir" sambil menunjuk ke arah kasir dan jawaban pak montir " Nggih mas...!". Lho........ngono tho.........? mau ketawa, menahan malu, atau menyalahkan pak montir? bingung sendiri. Akhirnya aku menuju ke kasir dan mengatakan bahwa aku ceritakan kejadian yang aku lamai. Benar apa yang dikatakan pak montir haru melapor dulu pada sang kasir, mbak cantik yang jaga juga heran dan mungkin juga kasihan sama saya. Tapi karena beberapa menit lagi waktu istirahat/makan siang aku harus menunggu setelah istirahat usai. Akhirnya aku putuskan nanti saja aku datang kesini lagi setelah jam istirahat dan aku mohon diri dan sedikit malu. Dalam perjalanan pulang terbesit "yang salah aku atau pak montir itu...?", bahkan sempat berpikir untuk tidak lagi kembali ke bengkel itu lagi atau mungkin kembali lagi besok. Kemudian terpikir membeli sesuatu yang aku rencanakan sebelumnya sebelum pulang ke rumah makan siang. Aku sampai di rumah dan makan siang, mendadak muncul pakde Tugino bersama anak keduanya yang gendut kayak Boboho, namanya Kevin Cahya Saputera, lahir 19 Januari tahun lalu. Aku songsong waktu memasuki rumah, namun saat itu malah nangis minta keliling naik sepeda mini merahnya. Langsung saja aku tawarkan naik sepeda bersama saya sambil menunjuk tangan. Saat aku julurkan tanganku, Kevin kecil mendekatkan tubuhnya ke arahku yang menandakan dia mau bersamaku. Aku gendong dan ketika aku coba alihkan ke permainan lain Kevin kecil menangis dan akhirnya aku terpaksa menuruti kemauannya. Aku menempatkan Kevin di tempat duduk depan dan aku duduk di bagian belakan lalu perlahan aku kayuh sepeda, muter-muter naik sepeda di dekat rumah, benar saja si Kevin senang sekali meski aku kawatir dengan cuaca yang panas tidak bagus untuk anak kecil. Di perempatan aku berhenti sebentar lalu menanyakan ke mana arah yang haru kutuju pada Kevin kecil. Pembicaraannya tak bisa aku pahami tapi jarinya menunjuk ke suatu arah dan aku menuju ke arah yang Kevin tunjuk. Aku lakukan hal itu beberapa kali dan akhirnya aku putuskan untuk pulang kembali ke rumah. Namun setelah sampai Kevin kecil nangis lagi minta muter-muter lagi naik sepeda. Bapak dan simbok mencoba menenangkan namun tak mampu membuak Kevin kecil berhenti menangis. Tak ada pilihan lain, pakde Tugino untuk menuruti kemauan Kevin kecil dan mohon diri. Setelah Kevin dan Pakde Tugino mohon diri lalu aku berencana ke bengkel lagi, dalam hati motor ku harus di service hari ini. Beberapa menit perjalanan sampai di bengkel juga dan aku langsung ke kasir mengatakan maksudku padanya. Kali ini aku menemui kasir yang biasa aku temui bila ke bengkel itu seorang laki-laki. Segera saja laki-laki itu memerintahkan montirnya untuk segera memperbaiki motor kesayanganku. Sekitar setengah jam aku menunggu motorku sudah selesasi di perbaiki dan aku puas dengan kondisinya sekarang tambah enak dikendarai. Tapi ya itu,.... Mbok ya ngomong dari tadi to pak Montir...

Kamis, 19 Maret 2009

Menjadi Pendengar Yang Baik

Mendengar, pekerjaan yang terkesan mudah, namun banyak orang enggan untuk melakukan pekerjaan ini. Ketika sahabat/kekasih sedang mempunyai persoalan, sebagai sahabat kita sering berusaha menghindar dari mereka, bahkan untuk sekedar tahu duduk persoalan saja. Seolah kita takut persoalan yang mereka hadapi akan merugikan kita, dan lebih buruk lagi ketika kita menganggap segala persoalan akan berdampak seperti itu. Kadang apa yang mereka alami tidaklah seburuk yang dia kira, hanya saja saat itu sahabat kita tidak bisa berpikir secara jernih. Saat persoalan datang pemikirannya menjadi sempit sehingga lupa jalan keluar, meski jalan keluar yang sesungguhnya adalah sangat sederhana. Saat itu mereka tidak bisa berpikir secara jernih dan lapang, penglihatan dan pemikiran menjadi sempit. Dan disaat itulah diperlukan partner yang tepat/sepaham sehingga pola pikir sahabat tersebut bisa menjadi lebih terbuka luas. Meski kita tidak secara langsung dituntunt untuk menemukan solusi, tapi dengan sharing/curhat pada seseorang merupakan bagian awal dari solusi. Paling tidak energi negatif akibat peersoalan di alami sahabat bisa menjadi berkurang dan membuka celah untuk pemikiran menjadi sedikit terbuka. Sebagai pendengar tentu kita harus menyesuaikan keadaan, ketika memahami persoalan akan lebih baik lagi. Selain mendengarkan dengan kesungguhan kita harus juga memberikan respon positif pada mereka bahwa kita peduli. Kemudian kita coba memberikan sedikit saran dan pertimbangang yang mungkin sebagai jawaban atas persoalan. Meski begitu keputusan kita serahkan pada sahabat kita sendiri untuk mempertimbangkan sendiri. Jangan sampai pendapat kita justru membuat konfrontasi dengan mereka sehingga persoalan menjadi lebih rumit. Kita juga harus paham sifat, pemikiran dan latar belakang dari sahabat kita. Perbedaan latar belakang keluarga, pendidikan sangat berpengaruh pada cara berpikir mereka dalam menyelesaikan persoalan. Untuk kasus yang sama diperlukan cara yang berbeda untuk sahabat yang mempunyai sifat dan latar belakang yang berbeda. Untuk orang yang pandai kita kadang hanya perlu mendengar keluh kesah mereka, kita tidak perlu banyak menguras banyak energi untuk memberikan solusi. Karena kadang mereka punya solusi tersendiri, yang mereka lakukan hanyalah mengatakan kepada orang lain/ terdekat untuk mencari solusi. Untuk seorang sahabat yang lain, selain kita mendengarkan keluh kesahnya kita harus juga menyediakan perkiraan solusi yang mungkin.Ada kalanya mereka perlu seorang pendengar saja, orang yang mau mendengar apa yang ada dalam pikiran dan hatinya, itu saja sudah cukup. Dan bahkan kita rela melakukan perjalanan beberapa puluh kilometer hanya untuk mendengar keluh-kesah seseorang yang kita sayangi selama beberapa jam.

Jangan Pernah Meremehkan Orang Lain

Sering kita meremehkan seseorang di sekitar kita atau seseorang yang mungkin saja baru kita kenal. Satu dua kali pertemuan masih tersimpan pemikiran itu, hingga suatu saat kita akan menemukan kelebihan orang itu. Apa yang seseorang itu miliki membuat kita terkaget, mereka ternyata memiliki sesuatu yang lebih dari kita. Saat bertemu kita mereka berperilaku low profile, dan kita masih terjebak dengan ego kita. Bisa saja mereka sengaja melakukan hal itu untuk menguji kita atau mencari kelemahan kita. Kita terlalu sombong untuk mengakui kelemahan yang kita miliki. Kesombongan yang berlebihan akan menyebabkan kehancuran dalam persahabatan, kekalahan dalam pertandingan atau bahkan peperangan. Janganlah pernah meremehkan kemampuan seseorang, terutama seseorang yang baru kita kenal.

Sabtu, 14 Maret 2009

Capres RI 2024

Mainan Masa Kecil
Ketika mereka para elits politik dimulai dari anak tangga yang tinggi, kelak akan datang calon presiden yang datang dari kalangan orang bawah. Diperkirakan tahun 2024 sang calon akan menduduki jabatan yang tertinggi di Indonesia. Saat ini sang capres baru mempersiapkan segala hal yang diperlukan untuk menuju tahta. Dari presiden yang menjabat di Indonesia selama ini adalah seseorang yang mempunyai darah pemimpin. Namanya belakangya diikuti nama keluarga yang membuat orang segera tahu ketika nama lengkapnya disebut. Terbesit dalam pikiran wah, anak orang hebat pasti hebat juga. Sejak kecil mereka dididik secara langsung atau tidak oleh orang-orang hebat, baik ayah, kakek atau nenek mereka adalah orang hebat. Juga mereka dibekali dengan harta dan kekayaan yang di masa kecil mereka tergolong melimpah. Sehingga sejak kecilpun mereka bisa bermain dengan sesuatu yang wah menurut ukuran dimasanya.
Di sekelilingnya adalah orang-orang hebat, apalagi kerabat, juga koleganya. Sehingga apa yang ada dalam pikiran, pembicaraan dan sikap mereka adalah figur yang membekas di hati sang anak. Sejak kecil kemampuan dan kepribadian mereka dibentuk oleh lingkungan yang menunjang. Fasilitas yang ada membuat mereka lebih banyak mempunyai peneyelesaian alternatif atas suatu persoalan. Ketika masa kecil mereka memiliki segudang prestasi ya memang semestinya begitu.

Lain halnya dengan capres 2024 ini, masa kecilnya tinggal di desa dan orang tua yang sederhana. Kehidupan keluarganya seorang petani atau kadang disebut juga 'tukang becak', dan beberapa saudara. Masa kecil dilalui dengan membantu orang tuanya ke sawah, ketika anak-anak lain sedang bermain sepulang sekolah, sang capres menggunakan waktu luangnya untuk membantu ke sawah. Bahkan semasa masih Tk sang capres minta dibuatkan alat tersendiri untuk membantu sang orang tua dimana memang untuk anak kecil peralatan yang ada terlalu berat. Membuat para tetangga heran, anak kecil ini kok aneh...! Meski begitu tak ada nama keluarga dibelakangnya. Atau meski diberi nama keluarga toh orang tak akan tahu siapa orang tuanya, hanya rakyat biasa. Ketika ditanya cita-citanya kelak jawabnya adalah menjadi presiden RI mengembalikan kejayaan di masa Presiden Soekarno.
Lagi pernah merengek sama orang tuanya, agar ditambahkan sebuah nama sebutan didepan nama sebelumnya. Permintaan dituruti, apalagi saat itu akta kelahiran belum terarsip dengan baik di dalam pemerinthan daerah. Sehingga tanggal dan tahun kelahiran seseorang tidak lah akurat. Akhirnya capres kecil mempunyai nama baru yang keren paling tidak untuk ukuran waktu itu. Beberapa even lokal sempat menjadi juara namun karena kurangnya bimbingan akhirnya prestasi yang pernah dia raih tidaklah berkembang. Kini hanya sebagai catatan bahwa dulu pernah pernah berprestasi juga dan sebuah tropi penghargaan yang masih tersimpan di rumah. Kebanyakan orang menyimpan tropi kejuaraan di ruang tamu sehingga para tamu bisa melihat sejauh mana kemampuan sang tuan rumah. Tidak halnya dengan sang capres, tropinya disimpan di dalam almari dimana tidak sembarangan orang bisa melihat. Mungkin orang tidak akan pernah tahu atau lupa bahwa dulu dia pernah berprestasi.

Masa Remaja
Capres 2024 ini masa remajanya sedikit berubah, ketika di masa kecil banyak membantu pekerjaan orang tua bersama kini jauh dari orang tua, meski masih satu kabupaten. Di era inilah kepribadian sang capres 2024 terbentuk, beberapa pemikiran dan faham mulai dimakan. Banyak buku biografi orang hebat mulai dilalap, kegemaran memhaca ini membuahkan semangat tertanam padanya. Namun meski di sekolah berprestasi, tidak sesuai dengan apa yang ada dalam pikirkan, merasakan jiwanya tidaklah di situ.
Pernah terlintas dalam pikiran untuk menjadi tentara atau polisi, kemudian berubah lagi dan akhirnya medaftar kuliah ternama di sebuah perguruan tinggi negeri didalam negeri. Beruntung saat itu dia lolos seleksi dan akhirnya diterima kuliah di perguruan tinggi tersebut. Saat itu keputusan yang dia ambil tergolong berat, materi yang dia terima di waktu itu tak selengkap sekolah umum, orientasi sekolah adalah untuk langsung terjun ke lapangan kerja. Lagi saat itu sang capres tidak mengikuti les tambahan sebagaimana orang lakukan ketika akan memasuki tes perguruan tinggi. Hanya belajar yang tekun dan keberuntungan lah sang capres dapat lolos ke perguruan tinggi.
Kepemimpinan Terbentuk
Semasa memasuki perkuliahan inilah bakat keepmimpinananya mulai nampak. Berbagai organisasi kampus mulai dia berkiprah dan beberapa kali meduduki posisi strategis. Demikian juga untuk organisasi ekstra kampus, sehingga banyak memberikan pengalaman yang berharga dalam diri sang capres. Banyaknya kawan yang sevisi membuat kepribadian dan jiwa kepemimpinannya meningkat. Pemikirannya pernah dia tuliskan dalam beberapa majalah ternama dan sempat membuat orang menjadi terhenyak, sensasional.
Tidak sejalan dengan bakat organisasinya, urusan kuliah menjadi terbengkalai. Maklum juga dengan sibuknya kegiatan organisasi, sedangkan materi kuliahnya yang teknik membuat orang harus menggunakan pikiran ekstra untuk bisa memahami. Sederet simbol dan angka gila terus menjadi makanan tiap kuliah, yang membuat kebanyakan para mahasiswa alergi. Dengan perjuangan yang agak berat akhirnya kuliah bisa diselesaikannya. Berhasil mewujudkan impian orang tuanya menyekolahkan anak sampai tingkat sarjana, sebuah prestasi yang bagus.
Cita-cita yang muncul selepas lulus kuliah adalah jadi seorang wirausahawan, dan benar saja mulai membentuk perusahaan kecil bersama teman-temannya. Beberapa tahun usahanya berjalan denga bagus namun karena bencana nasional melanda yang membuat banyak perusahaan harus pulang kampung. Lagipula orang tuanya tak mau anaknya capres 2024 jauh dari keluarga, sehingga mengalahlah sang anak. Kemudian merintis sebuah usaha kecil yang dekat denga keluarga sehingga memungkinkan untuk bertemu keluarga paling tidak sebulan sekali.

Sang Capres Berkeluarga
Mengingat usia yang sudah saatnya untuk menikah, sang capres kemudian meminang seorang gadis. Perjumpaan mereka pertama kali di bus kota sepulang kuliah, beberapa tahun kemudian mereka menikah. Sebagaimana perjalanan rumah tangga pada umumnya, di tahap awal akan terjadi gelombang yang besar. Wajar saja karena perbedaan latar belakang dan pemikiran sehingga diperlukan banyak sekali penyesuaian-penyesuaian. Setelah beberapa tahun menikah sang capres beserta istri dikarunia seorang gadis cilik yang cantik.
Karena kesibukan untuk usahanya yang harus dikembangkan, membuat sang capres jarang menemui sang anak. Beruntung masih ada orang tua yang bersedia menjaganya dirumah. Untuk masa kedepan, di tengah mengemas bisnisnya sang capres mulai melakukan safari politik dan beberapa tokoh politik lokal mulai didekati. Pemikirannya ternyata jauh diatas mereka sehingga membuat sang capres naik kelas di mata mereka.
Sang capres akan berlaga di tahun 2024 dan saat ini sedang menyiapkan segala skenario untuk menuju ke sana. Menggalang kekuatan, menyiapkan fondasi ekonomi dan kepemimpinan beserta massa yang diperlukan untuk mengatasi persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia.

Nantikan kehadirannya sang capres di sana....! Presiden RI 2024 - 2029

i don't want to see rainbow

I don't want to see rainbow...
I have seen you many times then I falled
Even you rainbow has beautiful color
But you were distortion effect
Spreading rain water made white light diverge, so you have many color
That made so beautiful as you
And the true color "white light" gone spreading
You are not pure any more
Rainbow even you have beautiful color
But I wish, I don't see you.......!

Aku BelumTahu

Semakin banyak kita belajar dan membaca dari media internet tv radio, ternyata banyak hal yang kita belum tahu. Banyak sekali informasi yang beredar di internet, bahkan setiap detik tersaji informasi terbaru. Sebagian informasi tersebut bermanfaat bagi kehidupan kita dan informasi lainnya bersifat negatif dan bisa dikatakan sampah.Memang tak mungkin kita mengetahui semua informasi yang beredar di dunia maya. Kita hanya mendapatkan sebagian kecil dari informasi yang ada. Apa yang yang mampu untuk kita ingat/ketahui sangatlah terbatas, adalah setetes air dari samudera dari semua ilmu yang Allah ciptakan (meski lebih luas dari samudera). Membayangkan luasan samudera saja kita tidak mampu apalagi diluar itu, dalam kasus ini kita harus menyederhanakan/memperkecil tanpa kehilangan maknanya.
Dan mengenai informasi yang negatif tentu kita sendirilah yang harus bersikap bijaksana. Kita tidak bisa menghindarinya untuk masuk dan melintasi didepan kita. Sepanjang kita bisa mengendalikan diri informasi negatif bisa memberi pelajaran bagi kita dan kita dapat mengambil hikmahnya.
Dunia ini dibentuk saling berkaitan/berlawanan/berpasangan, kita lihat siang-malam, terang-gelap,bahagia-sedih, pria-wanita, proton-elektron, positif-negatif . Keduanya selalu beriringan dan tidak bisa dipisahkan, dan kadang mereka muncul bersamaan. Menghilangkan salah satu dari kedua hal tersebut adalah tidak mungkin, kita hanya bisa membuatnya seimbang sebagaimana didefinisikan Yin-Yang dalam masyarakat China.
Beberapa hari yang lalu tak sengaja aku menemukan sebuah artikel yang membuat saya terkesan. Berbagai bentuk cristal air yang telah dibekukan, yang telah diteliti seorang profesor dari Jepang, Masaro Emoto. Tulisan, kata, musik dan doa menghasilkan vibrasi yang mempengaruhi bentuk kristal air. Perkataan bagus, musik yang lembut dan doa yang akan membuat susunan kristal menjadi indah dan bagus sedangkan perkataan/tulisan yang negatif membuat susunan kristal menjadi berantakan. Selama ini banyak beredar informasi bahwa air dapat digunakan untuk media penyembuhan berbagai penyakit. Air murni yang telah diberikan doa kemudian diminum oleh pasien dan penyakitpun hilang.
Meski penelitiannya sudah direalese beberapa tahun yang lalu aku baru mengetahuinya beberapa hari yang lalu.
Bentuk Kristal Air Suling
Pesan "Thank You"
Pesan "You make me sick !"
Musik "Mozart No 40"
"Heart Mark"
Untuk informasi lebih lanjut bisa anda dapatkan di www.emotoproject.org

Kamis, 05 Maret 2009

Angel Queen


I said: " This is nice song to listen, i really like it"
I found this here : di sini
Queen Millenia - Angel Queen


Floating down from the sky, lovely
angel queen, it's you
Shakin from her long sleep, lovely angel queen, it's you
Touching others like a child, loving others for awhile
Come and take my hand, my heart
In time we will be together

When we will say goodbye, they'll be no tears from me
Time passes by so fast
I love you, I remember you, forever.

1,000 years she rules the earth, lovely angel queen, it's you.
Riding flashes cold as ice, changing everything she sees.
Touching others like a child, loving others for awhile
Come and take my hand, my heart
In time we will be together

When we will say goodbye, they'll be no tears from me
Time passes by so fast
I love you, I remember you, forever.

We we will say goodbye, they'll be no tears from me
Time passes by so fast
I love you, I remember you, forever.

I can't find you anywhere
Where do you come from, where are you going?
I can't find you anywhere
Where do you come from, where are you going?

Warung Soto Ayam Mulud

Feel The Taste of Our Soto!
So Delicious

By Hari
Jalan Pasar Cawas - Pedan
Sentul Cawas