Dear God,
We Want to Be The Sun or The Moon more than The Star

Ya Tuhan, Jadikanlah kami seperti Matahari, seperti Bulan dan seperti Bintang-Bintang


Terima kasih atas kunjungan anda!




Jumat, 19 September 2008

Bapakku Petani Hebat

Aku pikir selama ini bapakku adalah petani yang hebat! Mungkin banyak orang yang mengenalnya akan mengatakan hal yang sama. Dengan bekal warisan kakek tidak sampai 2000m persegi, bapakku telah menyekolahkan kami 4 orang anaknya sampai ke tingkat sarjana. Memang bapakku sangat suka sekali di bidang pertanian, bapak sangat rajin ke sawah, seperti menikmati dan tidak kenal rasa lelah. Kadang sampai seharian disawah, berangkat pagi pagi, siang menahan lapar, dan petang baru sampai dirumah.
Kami sekeluarga sangat bangga dengan bapak, meski kami juga melihat ada kekurangan padanya. Namun kekurangan itu tidak seberapa dibanding besarnya perjuangan untuk keluarga kami. Di waktu muda dulu kami bersaudara sering juga membantu pekerjaan di sawah.dan bisa dibayangkan kami keluarga besar. Saudaraku 5 laki-laki semua, sehingga ini membuat kami semua bersaudara mengalami kesulitan jika menjalin hubungan dengan gadis. Meski kudengar bahwa kakakku termasuk anak istimewa ketika masih muda dan beberapa gadis atau teman sekolah berlomba untuk mendapatkannya. Hal itu juga aku alami sampai saat ini, kadang aku takut ketika bertemu gadis. Dalam suasana itu apa yang aku lakukan justru membuat mereka takut untuk mendekatiku lagi.
Tidak seperti orang lain pada umumnya, kami sekeluarga di usia sekolah dididik untuk membantu orang tua sebisanya, baik dalam keadaan terpaksa atau tidak. Sepulang sekolah kami di biasakan untuk membantu pekerjaan bapak di sawah atau pekerjaan di rumah. Kadang kami iri dengan teman yang lain yang bisa main kemanapun mereka suka, bersenang-senang atau bermain bola. Kena marah jika tidak mendengarkan permintaan orang tua adalah biasa, dan kadang bapak menceritakan sewaktu muda dulu kena marah kakek. Membandingkan kehidupan bapak dulu ketika masih muda, pagi-pagi harus membawa kerbau dan bajak ke sawah sebelum sarapan pagi. Lebih berat dibanding dengan yang kami alami, memang benar juga dulu masih susah untuk makan nasi seperti sekarang. Masih bagus bisa sarapan nasi, orang dulu sarapan hanya air putih. Meski demikian orang-orang dulu punya fisik yang cukup kuat, jarang sakit dan kalo sakit paling sakit luar.
Tapi akhirnya kami bersaudara sadar bahwa biaya hidup kami sehari-hari berasal dari pertanian, jadi suka atau tidak kami harus membantu pekerjaan Bapak. Kami juga pernah menggembalakan sapi, sepulang sekolah beberapa tahun. Karena untuk kebutuhan sekolah terpaksa sapi kami jual. Jika kami punya uang akan beli lagi satu atau dua ekor, namun sampai saat ini belum terlaksana. Maklum sepertinya banyak sekali kebutuhan yang harus segera dipenuhi, kami belum bisa mengumpulkan cukup uang untuk membeli seekor sapi. Bapakku sekarang berusia sekitar 65 tahun, dan dulu pernah mengenyam pendidikan Sekolah Teknik di bagian pertukangan kayu, mungkin setingkat SMP kalo sekarang! Karena alergi jika bersentuhan dengan kayu, akhirnya bapak meninggalkan dunia pertukangan. Ada beberapa pintu dan alat rumah tangga yang bapak buat. Meski tidak bagus tapi sekarang masih bisa digunakan, mungkin sebagai kenang-kenangan baginya. Sewaktu masih bapak muda, pertukangan adalah hal yang biasa bagi anak seusianya dan memang beberapa tetangga yang seusia dengan bapak bisa menggunakan alat pertukangan. Baik tukang kayu maupun batu, bapak juga punya sedikit keahlian dalam tukang batu.
Bersama paman dan satu orang lagi pakde pernah membangun rumah kami sendiri tanpa dibantu oleh ahli pertukangan. Meski rumah yang dibangun sederhana, namun memang diperlukan perhitungan dan ide yang baik agar dapat berjalan. Sepertinya mereka reuni, ingat sewaktu muda dulu, silih berganti membangun rumah yang direnovasi akibat bencana gempa beberapa tahun lalu. Saling bertukar ide dan gagasan, saling berkeluh kesah mengenai anak-anak mereka. Jika salah satu dari mereka tidak muncul mungkin akan sepi rasanya!
Bapak juga pernah merantau di kota Solo beberapa waktu aku dengar cerita dari beberapa tentangga yang pernah bersama bapak. Bapak jarang bercerita pengalamannya waktu di Solo, karena bapak tidak pandai dalam hal bercerita. Saat itu perekonomian keluarga kami mulai membaik, bapak bisa membeli pekarangan dan beberapa lahan tanah untuk disewa. Dan jika tidak mendengarkan nasehat kakek dulu yang cenderung kawatir, mungkin pekarangan di depan rumah bisa dimilikinya. Namun karena menuruti kemauan kakek, akhirnya bapak mundur dan tidak jadi membeli tanah tersebut.
Di Solo waktu itu bapak bekerja sebagai penarik becak, yang aku ingat saat masih kecil adalah bapak membelikanku oleh-oleh kacang atom (mungkin sekaran kacang garuda) dan sebuah gunting. Aku pernah dengar ceritanya, kalo ngantar orang ke pasar pagi-pagi kemudian diberi upah beberapa rupiah. Bapak juga pernah cerita dia punya teman yang mempunyai kemampuan supranatural. Bapak dibilangin sama orang itu, kalo bapak bekerja jadi tukang becak bukan karena butuh duit untuk makan (mengalami kesulitan) seperti teman bapak seprofesi saat itu. Memang sebenarnya keluarga kami tidak pernah kekurangan dalam hal makan, meski untuk lauk seadanya. Setelah beberapa lama bapak tidak merantau di kota Solo lagi dan berkonsentrasi dalam pertanian, dan bapak menyewa beberapa lahan pertanian dari para tetangga. Aku juga masih ingat di waktu kecil rumahku penuh dengan padi. Kalo musim panen tiba sampai bingung mau ditaruh dimana, karena harus menuggu kering untuk disimpan. Dan bahkan satu musim gabah belum dijual dan kehabisan karung, terpaksa ruang depan digunakan dan tanpa karung. Bapak terkenal dengan orang kaya di desa kami, Ya Kaya akan Padi..................! Jika hasil panen dimakan sekeluarga sendiri saja mungkin sepuluh tahun belum habis.
Karena sibuk dengan pertanian inilah mungkin bapak sudah enggan narik becak lagi. Kan sudah banyak pekerjaan yang menunggu untuk diselesaikan. Dan mengetahui cerita bapak waktu dulu itu, aku tidak pernah mau untuk naik becak ketika di kota. Aku lebih suka berjalan kaki setelah naik angkutan, meski membawa barang yang lumayan berat. Rasanya jika aku naik becak, ingat kalo sang penarik becaknya adalah bapak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Warung Soto Ayam Mulud

Feel The Taste of Our Soto!
So Delicious

By Hari
Jalan Pasar Cawas - Pedan
Sentul Cawas