Dear God,
We Want to Be The Sun or The Moon more than The Star

Ya Tuhan, Jadikanlah kami seperti Matahari, seperti Bulan dan seperti Bintang-Bintang


Terima kasih atas kunjungan anda!




Senin, 22 September 2008

Ilmu Belum Cukup

Siang hari, seorang kakek datang kerumah. Saat itu aku lagi santai, dan segera kusambut dia kubersihkan temat duduk dan kupersilakan duduk. Pertama kakek tersebut minta tolong untuk benerin jam dindingnya yang bermasalah. Aku sendiri juga heran, kenapa dia selalu mencariku padahal aku sendiri sudah tidak hobi dengan ilmu perbaikan. Memang aku dulu pernah suka elektronika dan sering para tetangga atau kawan minta dibenerin tape atau radio mereka. Saat itu aku memang suka dengan hal-hal berbau elektronika, aku juga pernah merangkai radio/tape dan amplifier dan beberapa teman juga pernah kubuatkan. Mungkin dari perjalananku itu sampai sekarang masih banyak tetangga yang meminta benerin alat elektronik mereka, namun sering ku tolak. Aku tidak lagi menemukan rasa saat memperbaiki elektronika, kalau dulu aku sering sampai lupa segalanya ketika sudah menyentuh elektronika. Dari siang sepulang sekolah sampai jam dua malam berkutat dengan resistor dan transistor. Saat itu aku tidak merasa kelelahan, yang ada adalah rasa penasaran dan rasa ingin tahu yang begitu tinggi, mungkin hal itu yang membuat aku bisa bertahan beberapa jam. Kembali ke seorang kakek, sebenarnya dia adalah masih kerabat kemenakan bapak namanya Pakdhe Manto, keluargaku memanggil namanya. Mungkin menemuiku hanya salah satu alasan saja, masih ada alasan lain yaitu pembicaraan yang lebih panjang dan menarik. Seperti sudah biasanya ketika bertemu dengan bapak akan dilanjutkan dengan cerita tentang kehidupan dan peristiwa yang dekat dengan kami. Topik tadi siang mengenai bantuan langsung tunai yang diberikan oleh pemerintah telah sampai kepada kami. Dan masalahnya adalah terjadi pertikaian antara seoran warga dan ketua RT. Namun pertikaian dapat diredam berkat usaha Pakdhe, padahal saat itu ada banyak orang yang lebih muda, namun mereka tak berkutik menghadapi situasi tersebut. Mereka semua justru heran kenapa sepak terjang Pakdhe bisa meredam gejolak salah satu mereka. Jika tidak pasti ada yang babak belur diantara mereka. Pakde bercerita dengan bangga sekali dan kamipun senang juga mendengarnya. Kami sudah sering mendengar cerita sepak terbangnya dalam menyelesaikan masalah dari yang sederhana sampai yang menurutku rumit, mungkin kalo orang lain sudah menyerah. Dulu juga pernah saat peristiwa G30S/PKI dia ikut ambil bagian menyelamatkan orang yang dipenjara. Dia harus berhadapan dengan tentara yang dia sebut dengan istilah tentara Bego. Dia menyebutnya demikian karena para tentara dalam operasi pemulihan G30S/PKI tidak bisa bahasa Jawa. Dan pakdhe tidak bisa dengan bahasa Indonesia, sehingga kalo diinterograsi gak pernah nyambung. Saat itu pakdhe harus menempuh berkilometer menuju penjara di tingkat kabupaten. Ada kerabat yang menjadi korban salah tangkap, maklum saat itu memang rawan, siapa saja yang banyak ngomong bisa dimasukkan dalam daftar pemberontak. Bekal yang dia bawa saat itu cuma bekal nekat beserta surat sakti yang dia peroleh dari pak lurah, surat nikah dan surat sakti dari temannya. Sehingga setiap ada pos pemeriksaan, pakdhe bisa terus jalan, dan akhirnya bisa mengenal seorang tentara berpangkat. Dari seorang tentara tersebut pakde berhasil membawa seorang kerabat keluar dari penjara, juga bisa membantu orang lain yang sama-sama dipenjara dalam kasus yang sama di lain hari. Ketika aku mendengar cerita-cerita beliau mengenai kepahlawanannya aku sangat bangga padanya. Dalam situasi yang dia alami, mungkin aku akan menyerah! Padahal pakde Manto tidak pernah mengenal sekolah, juga tidak mengerti tulisan, namun kata-kata dan ide-idenya mampu menyelesaikan banyak persoalan. Logikanya bagus sekali, sedangkan aku meski sudah sekolah selama 18 tahun disekolah formal menurutku masih jauh darinya. Dia juga pernah merantau keluar daerah, untuk mencari penghidupan di Yoyakarta dan Solo adalah tempat yang sering dia kesana. Meski dari beberapa perjuangan dilakukan membantu orang lain, justru pakdhe sering juga mendapat perlakuan tidak semestinya. Pengorbanan yang dia berikan tidak dihargai, padahal nyawa dan harta sudah dia pertaruhkan semuanya. Sepertinya orang-orang yang sudah dia bantu seakan begitu mudah melupakannya, sungguh kasihan juga. Ada beberapa hal dari pemikiran dia yang salah menurutku, namun aku belum mampu menjelaskan. Kadang aku juga bingung jelasin, ilmuku belum cukup untuk memberikan dia sebuah pengertian yang dia terima. Karena aku sendiri juga belum yakin sepenuhnya, apa yang kami perdebatkan adalah abstrak! Bagaimana aku bisa jelaskan lha aku sendiri juga belum bisa memahami sepenuhnya. Kalau sudah begini aku hanya bisa mendengarkan saja apa yang dia katakan, meski dalam hati aku tidak sepaham. Mengenai agama dan masjid yang menurutku telah terjadi bias dalam pemahamannya. Mungkin juga karena apa yang telah dia dengar dari beberapa penceramah yang sering menyinggung hati dan perasaan mereka. Mereka berpikir apa yang telah dia sampaikan adalah salah dan bukan seperti itu yang dikatakan dalam agama (Al Quran). Mereka tidak sengaja menyebarkan benih kebencian diantara sesama masyarakat dan umat agama lain. Aku juga sering mendengar demikian

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Warung Soto Ayam Mulud

Feel The Taste of Our Soto!
So Delicious

By Hari
Jalan Pasar Cawas - Pedan
Sentul Cawas