Dear God,
We Want to Be The Sun or The Moon more than The Star

Ya Tuhan, Jadikanlah kami seperti Matahari, seperti Bulan dan seperti Bintang-Bintang


Terima kasih atas kunjungan anda!




Jumat, 11 Juli 2008

Yang Selalu Hadir

Aku ingat sekali di masa kecil ku bersama bapakku, suatu kejadian yang sangat berkesan bagiku terhadap sosok Bapak. Bapak yang mengukir jiwa dan raga kami sekeluarga, merawat, menjaga dan berjuang setiap masa. Dengan rasa sabar dan penuh dedikasi, mengabaikan rasa sakit dan lelah Bapak berusaha mencukupi kebutuhan kami dan harapan hari esok lebih baik.
Pendidikan No Satu, Lainnya No Dua
Bapakku seorang petani yang ulet di desa kami dan sangat konsen dengan pendidikan anak-anaknya. Berharap kelak menjadi orang yang lebih dari sekedar petani, empat dari 6 bersaudara kami dapat menlanjutkan studi yang lebih tinggi. Meskipun disini kuliah bukan jaminan kesejahteraan, hal itu cukup membuktikan perjuangan dan usaha kami sekeluarga. Yang ada dalam pikiran kami adalah bagaimana caranya bisa kuliah lebih tinggi dan untuk mencapai tujuan itu kami harus membatasi keinginan lain, karena keterbasan ekonomi keluarga!
Aku ingat sekali waktu itu aku masih sekolah TK, pagi hari aku menangis! Aku tidak ingat banyak kenapa, yang teringat saat itu aku tidak mau masuk sekolah. Padahal saat itu sudah memakai seragam sekolah, Bapak sangat risau sekali. Beberapa usaha dia lakukan agar aku mau berangkat ke sekolah, mengantar dan memberi uang saku untuk jajan di sekolah. Padahal kami tidak terbiasa dengan uang saku saat pergi ke sekolah. Singkatnya aku jadi berangkat sekolah diantar Bapak pake sepeda, baru sekali aku ke sekolah di antar, biasa berangkat sama kawan dengan berlari. Sekolah TK kami tidak jauh dari rumah, lima menit berjalan sudah sampai.
Namun saat itu uang saku aku belikan apa, ........ Aku tidak ingat lagi..!
Lagi pada saat kelas 6 SD pernah aku bilang sama Bapak, kalo aku lulus SD mau jual es saja tidak usah sekolah lagi. Sepertinya saat itu Bapak tidak rela aku tidak sekolah aku kena marah. Memang aku saat itu tidak tahu mana yang lebih baik, antara sekolah jenjang lebih tinggi dan tamat SD. Aku saat ini merasa beruntung, pada saat itu Bapak marah, jadi aku terus melanjutkan ke sekolah bahkan sampai kuliah. Aku jadi tahu banyak hal dan aku merasa memang otakku mampu, aku menyukai sekolah, aku berprestasi. Aku menyukai IPA, Matematika, Fisika, dan aku menikmati pelajaran itu. Para Guru suka padaku, image keluarga diperhitungkan di masyarakat.
Langkah Kecilku Tak Sejauh Langkah Bapak
Peristiwa lain yang masih teringat di masa kecilku mungkin umurku baru 5 tahun. Pernah suatu waktu kami harus kerja ke sawah, saat itu sedang musim tanam. Pagi kami berangkat ke sawah, aku berjalan dibelakang bapakku. Saat iku aku pake topi namun tidak bawa perbekalan sedang Bapakku membawa cangkul dipundak dan sabit dibelakang. Yang kuingat waktu itu adalah kenapa aku selalu tertinggal dari pada Bapak? Padahal beberapa kali saya mencoba mendahului dengan berlari. Sehingga posisiku beberapa langkah didepan Bapak lalu berjalan biasa. Namun beberapa saat kemudian aku tertinggal lagi, begitu berulang ulang. Terasa sekali langkah Bapak lebih cepat, dan aku seakan tak mampu mengimbanginya. Saat itu aku berharap bisa berjalan bersama disampingnya, sesaat memang bisa tetapi lebih banyak tertinggalnya.
Aku baru sadar bahwa langkahku saat itu tak sejauh langkah Bapak, aku harus banyak berlari!
Sama yang kurasakan saat ini, Aku masih jauh dari impian orang tuaku. Dan sepertinya
aku harus lebih banyak berlari lagi.........!
Aku tidak tahu mengapa aku begitu terkesan dengan peristiwa itu saat bersama Bapak. Dan sepertinya aku tidak akan pernah melupakannya............................

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Warung Soto Ayam Mulud

Feel The Taste of Our Soto!
So Delicious

By Hari
Jalan Pasar Cawas - Pedan
Sentul Cawas