Dear God,
We Want to Be The Sun or The Moon more than The Star

Ya Tuhan, Jadikanlah kami seperti Matahari, seperti Bulan dan seperti Bintang-Bintang


Terima kasih atas kunjungan anda!




Jumat, 11 Juli 2008

Akhirnya Teratasi Juga

  • Ide Sesaat Yang Tak Terduga
Kemarin aqu main ke tempat kakakku Mas Suraji di Tangkisan Pos dekat stasiun Srowot. Berangkat sekitar pukul 10 pagi, ide sesaat yang tidak saya pikirkan, datang begitu saja untuk main kesana. Aku masih ada rasa penasaran pada keponakanku, Nazhim (6) dan Izzah (3) namanya. Hampir saja aku putus asa untuk mendekatinya, tiap kali bertemu baik di rumah kami atau di rumah kakakku. Aku harus berpikir seribu kali agar mereka bisa dekat sama aku sebagai Om/Paman. Komunikasi kami seakan terputus begitu saja, hingga aku diamkan saja tiap kali bertemu, dengan agak sedikit acuh. Menemukan cara agar aku dapat meraih simpatinya adalah suatu hal sangat sulit. Aku pun gak tahu/paham kenapa bisa begitu! Merayu anak kecil saja gak bisa apalagi merayu orang dewasa lagi lebih pintar, pasti diperlukan tenaga ekstra.
  • Di Rumah Bu Heru
Singkat cerita sampai di Tangkisan, rumah ternyata kosong! Kakakku Mas Suraji belum pulang, begitu pula kakak ipar. Memang aku tidak kasih tau mereka lebih dulu, maunya spontanitas sehingga mereka tidak bertanya tanya kenapa aku main kesana! Gagasan untuk mampir di rumah mertua kakakku, disana kutemui ibu Heru dan keponakanku Nazhim yang memang sering main disana daripada di rumahnya sendiri. Mungkin belum terbiasa di rumah sendiri yang baru dan jarak ke tetangga agak jauh, sekitar 100 meter, dari pengamatanku anak sebayanya juga belum ada di sekitar tempat tinggal. Di rumah mertua kakakku aku berbincang sama Ibu Heru, tentang keadaan keluarga, perjuangannya bersama suami/P Heru membesarkan dan merawat anak-anaknya. Seperti orang tua pada umumnya, mereka bangga sekali bisa bercerita tentang masa lalu atau masa kecil mereka. Berjuang bersama dalam keluarga untuk menghadapi kehidupan yang selalu berubah setiap masa. Aku memang senang mendengar cerita dari para orang tua tentang masa kecil atau perjuangan mereka di waktu dulu. Sepertinya pada masa muda mereka ada kenangan yang bisa aku jadikan teladan. Aku ingin mendapatkan.pelajaran/hikmah dari kisah mereka di masa lalu, yang kelak bermanfaat bagiku. Saat berbincang kesana kemari kami memang sedikit mengabaikan keponakanku itu. Aku merasa bahwa aku telah gagal mendekatinya, aku coba beberapa kali untuk membujuknya, agar keponakanku mau ke ajak kemana lah asalkan bersama. Satu dua tiga kali coba gagal, aku menyerah! Setelah berapa lama berbincang terus makan siang. Beberapa kali kulihat Nazhim pulang ke rumahnya pake sepeda kecil, katanya mau lihat barang kali Bapak/Ibunya sudah pulang. Namun sepertinya belum pulang juga, hingga aku punya ide untuk menunggu kepulangan mereka di rumah bersama keponakanku Nazhim. Naik motor bersama, tapi Nazhim rupanya tidak mau, ya sudah aku berangkat sendiri, rumah mereka tidak terlalu jauh, sekitar 200 meter saja.
  • Sepuluh Ribu Rupiah
Ya sudah aku berangkat sendiri pake motor, menunggu disana. Tak berapa lama menunggu Nazhim menyusul ke rumah naik sepeda kesayangannya. Aku heran juga, ada ide mendekatinya dengan kasih uang Sepuluh Ribu! Pertama reaksi tidak begitu kelihatan, aku coba bertanya tentang hal-hal kecil, yang selama ini dia suka, tentang sekolah/badminton/pelihara ikan atau tentang adiknya. Pertama jawaban agak masuk / nyambung, lama lama dia kasih saran aku untuk menhubungi Ibunya lewat HP. Aku bilang HPku lagi low bat, jadi tidak bisa untuk sms, dia sarankan untuk jemput ke sekolah saja. Aku bilang belum tahu sekolah tempat ngajarnya dimana. Aku tanya dia balik, Nazhim tau tidak, kalau tahu mau tidak ngantar kesana. Diluar dugaan dia bilang mau, wah kebetulan........... yang selama ini aku impikan hampir terlaksana. Keputusan kami untuk ke Sekolah sudah bulat sehingga kami berpamitan dulu pada ibu Heru kalau Nazhim bersama aku. Aku membisikinya biar dia sama aku sebentar, kesempatan yang harus aku manfaatkan. Nazhim mau kuajak bersamaku, dan diijinkan, ibu Heru memang tahu jika kami memang kesulitan berkomunikasi, jadi rencana kami disetujui. Kami jadi berangkat bersama, memang agak jauh juga sekitar 10 menit perjalanan. Tapi aku merasa lega impianku bisa terwujud, kami berkeliling ke sekolah Ibunya dilanjutkan ke sekolah Bapaknya. Dan saya beruntung tidak bertemu di Sekolah ternyata mereka sudah sampai di rumah, mungkin jalan yang kami lewati berbeda sehingga tidak berpapasan di jalan. Aku lebih suka begini, jadi aku lebih banyak kesempatan untuk bersama.
  • Main Komputer
Memang benar, setelah sampai di rumahnya mereka berdua sudah pulang. Di rumah kakakku aku dan Nazhim main badminton sesuatu yang sangat menyenangkan. Kakakku sedang mengerjakan tugas dengan komputer, kebetulan baru saja beli komputer baru. Sepertinya Nazhim ingin menunjukkan sesuatu pada saya, permainan di komputer. Tapi saat itu komputer lagi di pakai, sehingga sementara kami main badminton di ruang keluarga. Setelah selesai kami main komputer, pertama kuis Who Want to Be A Millioner. Aku heran juga sama keponakanku ini, baru lulus Tk sudah bisa baca tulis, lagi bisa pake komputer. Selesai itu dilanjutkan game Need fo Speed, mobil racing game, aku bersamanya memandu bagaimana cara mainnya, memang kami menikmati keakraban kami. Setelah beberapa lama waktu saya mohon diri untuk pulang. Akhirnya masalahku teratasi juga dengan ending yang menurutku spektakuler, diluar dugaan, dan pulang dengan perasaan senang, bahagia!
Hari itu aku merasa bahagia sekali.
Berharap hubungan kami ke depan lebih baik saat kami ketemu. Bertemu, bersama, bermain, bergembira.............................!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Warung Soto Ayam Mulud

Feel The Taste of Our Soto!
So Delicious

By Hari
Jalan Pasar Cawas - Pedan
Sentul Cawas