Dear God,
We Want to Be The Sun or The Moon more than The Star

Ya Tuhan, Jadikanlah kami seperti Matahari, seperti Bulan dan seperti Bintang-Bintang


Terima kasih atas kunjungan anda!




Minggu, 28 Desember 2008

Semuanya Datang Padaku Kebetulan

Ketika aku sering ke Solo seorang kawan menghubungiku, Haryanto teman waktu SMA. Kami sangat akrab sehingga aku menggunakan sebutan dalam keluarga ya Pakdhe, aku rasa nama panggilan itu sebutan paling akrab dibanding yang lain. Aku tak menyangka dari peristiwa itu menjadi awal aku mengenal orang, blog, internet. Aku juga bertemu dengan orang-orang istimewa, Pak/Ibu Wisnu Wijaya, Adik Ferbian, adik Nova, Mr Sunarto, Mbak Puji, Mas Daryono Mie Ayam Mekar Sari, atau mas Lagiman yang jual Mie/Nasi Goreng di seberang jalan. Disebelah ada yang jual Soto Ayam Bu Harto bersama kedua anaknya dibantu Pak Mulud (bapak dari kawanku). Kalo yang jual Soto Daging disebelah utara tetanggau, Mas Joko dan Mas Trimo kadang anaknya yang masih SMP dan SD main ke sini. AKhir-akhhir ini saja tak kesini karena sudah musim sekolah.

Ada lagi master saya P Sabariyanto yang banyak sibuknya, kalo ke warnet cuma chatting saja. Selain mengajar bahasa inggris di SMA beliau juga ngajar di STAIN dan punya perguruan intifadhoh lagi punya warnet di Yogya. Kemudian P Wasono seorang guru bahasa jawa pernah tampil mendalang di Jepara waktu masih tugas disana beberapa prestasi tingkat propinsi pernah diraihnya, P Warsito seorang guru sekolah dasar yang sedang melanjutkan S2, P Wasimin seorang karyawan, dan masih banyak lagi Pak yang lain yang memberikan banyak inspirasi pada diriku. Semuanya berawal dari tanpa hal khusus, semua peristiwa yang terjadi diluar dugaan, waktu mengenal beliau aku melihat kelebihan mereka masing-masing. Ada sesuatu yang aku ingat dari mereka, karisma, kepandaian atau kebaikan nya yang sangat berkesan padaku.

Pertama kali bertemu adalah biasa seseorang belum ada respek pada masing-masing pribadi, hingga salah satu darinya menemukan sesuatu yang lebih/aneh yang menyita sedikit perhatian. Dari situ pada pertemuan selanjutnya bisa dilanjutkan dan akhirnya akan terjadi suatu ikatan batin. Di pertemuan berikutnya mereka akan saling mengenal dari semua sisi baik positif dan negatifnya.

Khusus untuk cewek ada Anggita sebagai teman yang aku anggap sebagai adik sendiri, Enkana yang juga masih sekolah SMA sering main ke warnet. Mereka memanggilku pakdhe, mungkin mereka mendengar ketika aku memanggil pakdhe pada kawan yang pernah datang kemari. Aku tidak keberatan dengan sebutan itu, kesannya lebih akrab. Banyak lagi adik-adik cewek yang kukenal, mereka masih sekolah SMP atau SMA ada beberapa yang sudah kulian di Solo atau di Yogya. Aku belajar dari mereka, berbagai macam sifat mereka aku jadi sedikit paham dengan mereka wanita. Bahkan ada yang tiap kali kesini bersama menurutku pacarnya selalu bertengkar, meski mereka kadang terlihat bercanda. Kadang salah satu diantara mereka meminta pendapatku untuk memihaknya, kalau sudah begini aku biasanya bingung mau bela yang mana.

Ada lagi Ryan keponakan dari kawanku tiap kali ke warnet selalu mencari musik midi dan lagu barat. Sekolah kejuruan jurusan teknologi informasi, kelas dua di sekolah kejuruan negeri ngawen gunungkidul. Meski kadang kusindir kenapa sekolah komputer belum bisa komputer dasar. Aku ingin coba bangkitkan rasa ingin tahunya yang masih kurang, namun sampai saat ini belum bisa. Aku di warnet bertemu banyak teman baru dan ketemu dunia baru, di sini aku punya kesempatan untuk melihat dunia dari balik layar. Banyak hal kutemukan disini, informasi yang aku perlukan aku bisa dapatkan dalam sekejap.

Guruku Datang

Baru saja aku mengedit tulisan ini (29 Desember 2008) sore hari dikejutkan dengan kedatangan dua orang bapak. Waktu kuperhatikan, aku tak asing lagi melihat beliau, meski sudah puluhan tahun tak pernah ketemu aku masih ingat wajah mereka. Mereka adalah guru ketika aku SMP di Pangudiluhur, segera aku salami beliau berdua sambil menyebut namanya satu persatu. Kali ini tak bertemu di sekolah namun di warnet, beliau berdua ingin melihat pengumuman hasil sertifikasi guru yang dilaksanakan di FKIP UNS. Padahal tadi malam waktu melihat Kirab Pusaka di Solo, aku coba mangkal di jalan Slamet Riyadi dan melihat di seberang jalan ada nama sekolah SMP PangudiLuhur. Aku jadi teringat almamater sekolahku dulu, teringat sama Bapak/Ibu Guru, yang paling istimewa Pak Stepanus Widodo. Teringat waktu masuk pertama kali menanyakan siapa diantara satu kelas yang masuk sekolah di situ dengan terpaksa. Saat itu aku mengacungkan jari, dengan jujur dan bersemangat aku jawab pertanyaan itu, ada satu teman ku tapi lupa siapa. Aku terpaksa masuk sekolah disitu karena tak bisa masuk SMP 1 Cawas. Waktu itu beliau menasehati kami jangan sampai melakukan suatu hal dengan perasaan terpaksa. Aku memang tidak mengatakan sebenarnya, waktu masih kelas enam aku memang ingin masuk sekolah di situ. Tapi karena kehendak orang tua dan kakak, aku diminta mencoba daftar dulu di Negeri. Saat itu memang nilai ku tak masuk kualifikasi di sekolah negeri. Jadi meski aku daftar ya tak diterima, dalam bayanganku saat itu aku harus nunggu tahun depan lagi. Beruntung kakakku yang tertua pulang waktu itu masih kuliah di IKIP Semarang, dan dia alumni SMP Pangudiluhur juga. Jadi dengan mudah bisa melobi pihak sekolah di SMP Pangudiluhur untuk menerima aku. Saat itu ada beberapa orang yang mengalami hal yang sama. Yang paling aku ingat namanya Sumino, orang tuanya tidak mampu menyekolahkan sehingga rencana dia tak sekolah. Oleh tetangganya yang juga seorang guru di SMP Pangudiluhur Pak Marwoto namanya, dia didatarkan. Aku dengar dia mendapatkan keringanan membayar SPP dari pihak sekolah.

Dan yang datang sore tadi adalah beliau Pak Stepanus Widodo yang mengajar kami Fisika dan Matematika beserta Pak Fx Sugeng Siswanto yang mengajar Matematika kelas lain. Aku tak tahu ini sebuah kebetulan atau apa, aku hanya berpiir bahwa kita sering diberi petunjuk namun kadang kita mengabaikan. Semua kebenaran milik Allah, meski aku menganggap bahwa setiap peristiwa yang terjadi di sekitar kita adalah petunjuk bagi kita.

Wah senang sekali, aku dulu juga pernah ketemu juga dengan guru di SMA di warnet, Pak Triyono yang mengajar bahasa inggris dan pak Sajiyono guru sejarah. Aku juga menyapa mereka dan menanyakan tentang kabar terbaru di sekolah tempat aku dulu belajar. Mereka sangat baik menanggapi pembicaraanku, mungkin mereka tak ingat lagi padaku. Tapi aku masih mengingat mereka semua, setiap para guru yang memberikan kesan padaku akan selalu kuingat sampai kapankun. Aku belajar dari mereka, jadi sudah sepantasnya aku berterimakasih pada mereka semua.

Bonus Hari Ini Upgrade Memori

Hari ini aku bangun pagi sekali sebelum shubuh, aku juga heran kenapa. Saat bangun, aku tak ingin tidur lagi tak seperti biasanya akhir-akhir ini. Mungkin seseorang telah berdoa untukku, benar atau tidak aku belum tahu. Memang hari ini aku berencana mau ke rumah dhi Alfi untuk memasang memori komputer yang telah kubeli kemarin. Aku rencanakan jam sembilan kesana, menurutku tidak terlalu pagi untuk bertamu ke rumah seseorang. Aku menunggu jam terlalu lama berdetak, masih jam 7 pagi dan kudengar Burung berkicau didepan rumah. Menurut pengalaman orang jawa akan ada tamu yang datang entah keluarga atau tamu istimewa. Beberapa hari ini memang hampir tiap hari terjadi setiap pagi hari, aku pikir mereka sedang menyampaikan salam atau sesuatu dari jauh. Siapa yang tahu, banyak hal yang kita manusia tidak tahu/melihat/mendengar. Indera kita terbatas, bagaimana kita tahu kalo seseorang dari jauh sana sedang memikirkan kita atau berharap kita menghubunginya. Aku percaya saja apakah itu mitos, kadang memang ada tamu datang kadang juga tidak.

Meski aku merencakan jam 9 tapi aku tak jadi berangkat jam sembilan aku malah ngantuk dan tidur sampai jam 10. Aku dengar hp bergetar ada dua sms masuk aku diamkan saja tak kubalas. Dari dik Febrian dan temanku Miswan.

Baru sekitar jam 12 aku berangkat, sepertinya waktuku mempet, besok aku ada urusan lain jadi aku harus pasang hari ini. Jam segitu waktunya makan siang dan shalat dhuhur jadi tak sopan untuk bertamu. Aku tak punya pilihan lain jadi berangkat saat itu juga, sampai di rumah dik Alfi, ada dik Ayu di depan rumah bersama kawannya sedang ngobrol. Dipersilahkan dan aku terus menuju lantai dua, kulihat dik Alfi sedang masak. Ketika aku tanya Bapak/ibunya dimana, ternyata baru ke Solo belanja, aku tak tahu pasti tempatnya. Aku langsung saja ke atas menuju kamar tempat komputer berada. Kulihat dik Yekti sedang pake komputer sedang main game, melihat kedatanganku menyapa lalu pergi dan membiarkanku perbaiki komputer. Setelah buka chasing dan kupasang memori lalu hidupkan kembali, upgrade memori berhasil. Sebelumnya aku agak ragu apakah upgrade berhasil karena spec yang aku cari tak ada, tapi akhirnya aku yakin bisa. Kemudian coba jalankan beberapa program Office ternyata responnya tambah cepat. Sebelumnya perlu waktu 150 detik untuk loading, setelah penambahan memori waktu loading menjadi 30 detik. Ya upgrade memori 2 x semula mestinya kinerja tambah cepat, semula 256 MB menjadi 512 MB dan untuk share VGA 8 MB.

Setelah coba semua program respon nya cepat, aku lihat dari jendela langit terlihat mendung mau turun hujan. Aku mohon diri untuk pulang meski mereka sudah menyediakan makan siang untukku. Dalam perjalanan memang hujan tapi baru sekitar 2 km dari rumah dik Alfi tak ada hujan. Perjalanan sampai rumah memang belum ada tanda-tanda akan turun hujan meski mendung. Baru beberapa menit berikutnya hujan turun dan aku sudah tiduran di rumah. Aku senang pekerjaanku upgrade memori selesai, sukses, selain itu respon komputer juga bagus. Upgrade komputer aku nyatakan selesai, dan kejadian yang lain adalah bonus. Dhik Alfi malam hari mau berangkat ke Jakarta naik kereta.........! Selamat jalan, semoga selamat sampai Jakarta, nyaman dan aman dalam perjalanan. Besok sudah awal tahun Hijriyah dan aku berencana nonton kirab pusaka keraton di Solo bersama seorang kawan. Ya sebentara lagi.........!

Doni Kecil

Doni kecil sering kali mengintip dari balik pintu kaca, namun ketika kudekati dan kuminta masuk justru lari menjauh. Beberapa saat kemudian mengintip lagi, kadang menutup/membuka pintu slinding yang terbuat dari frame kaca. Hampir tiap malam kesini hanya mau mengintip dari luar, melihat orang orang yang berada di warnet termasuk aku. Aku tidak tahu maksudnya, mungkin rasa ingin tahu nya lagi muncul, apa yang kami lakukan di dalam warnet. Doni Andrianto nama lengkapnya, merupakan anak mas Daryono yang jual mie ayam di depan Army Net. Jualan sekitar jam 4 sore sampai sepuluh malam, dibantu oleh mbak Titin adik iparnya. Sering Doni kecil bersama ibunya (Istri Daryono) atau kadang bersama om Aris nya ke warung yang dekat warnet. Tiap kali datang tak lupa mengintip dari balik pintu kaca yang transparan. Begitu kudekati langsung lari mendekati bapak atau tantenya, begitu seterusnya.

Beberapa hari ini lain dengan Doni kecil, begitu datang terus mulai buka pintu dan masuk ke warnet. Aku sendiri juga heran kenapa berubah begitu, mungkin sudah bosan diluar bersama orang tuanya. Kemudian tanya sana sini, apa yang sedang aku dan orang-orang lakukan di dalam ruangan, mulai memainkan mouse, keyboard dan tutup botol minuman. Ambil pembuka tutup botol dan menanyakan minuman apa sambil mencoba buka tutupnya. Waktu aku ingatkan jangan dibuka, masih saja mencoba berulang kali, yang dia ingat hanya fanta. Padahal disini tak ada minuman fanta, waktu kujelaskan tak ada fanta disini masih saja tak percaya. Namanya juga anak kecil usia mungkin sekitar 7 tahun baru sekolah TK, jadi aku tak terlalu risau dengan kelakuannya. Ketika memegang mouse selalu saja buat mainan dengan memencet tombol sembarangan, jadi komputernya bingung jalan sendiri karena dah di klik berulang kali. Pernah waktu saat menulis di blog aku tinggal sebentar, waktu aku kembali tampilan sudah lain. Padahal sudah ketik banyak dan belum disimpan, wah ngulang lagi deh. Aku cukup bersabar dengan kelakuannya, lagipula apa yang dia lakukan belum lah terlalu memberatkan. Aku cuma menunjukkan sedikit kecewa padanya disertai senyuman, dan mulai ngetik ulang lagi.

Sabtu, 27 Desember 2008

Mr Sunarto

Namanya Pak Sunarto, umurnya sekitar 60 tahun berprofesi service jam. Segala merek jam bisa dia perbaiki baik yang masih menggunakan sistem mekanik tanpa atau dengan batere. Tiap hari mangkal di sebelah warnet dengan berbekal meja sekaligus almari seadanya. Peralatan juga tidak modern, beberapa obeng kecil, palu, pisau kecil dan cairan pembersih. Setiap menyapu halaman depan warnet selalu di akhiri dengan membuka pintu seraya melambaikan tangan disertai senyuman yang ramah. Pertama kali aku kaget juga, aku belum pernah mengenalnya namun aku juga membalas dengan senyuman. Ketika sore akan pulang dia selalu berpamitan dan jabat tangan tak dilupakannya.

Satu dua kali aku tidak merespon, hingga ada perasaan tak enak dalam hati. Aku melihat kebaikan dalam diri bapak Sunarto, berinisiatif menyapa duluan pada siapupun yang dia kenal. Saat itu aku tidak tahu namanya, tiap kali ketemu aku hanya bisa tersenyum. Aku coba cari informasi tentang nama beliau, dari temanku aku tahu bahwa dia sangat baik dan namanya Mr Sunarto. Setelah itu tiap kali datang aku tak lupa menyapa dan menjabat tangannya. Kami pernah juga berbincang-bincang masalah kenaikan BBM, negara, politik, pemilu hingga masalah keluarga. Pak Sunarto menyediakan papan catur disitu sehingga saat aku menghampiri kadang sedang bermain catur dengan kawannya. Dari beberapa permainan yang aku lihat, pak Sunarto sering unggul dari lawan mainnya. Akhir akhir ini papan catur sudah tak ada lagi disana, sehingga sekarang aku tak melihat lagi beliau bermain catur.

Mengenai keluarga dia bercerita bahwa beliau mempunyai beberapa orang anak yang sudah berkeluarga. Dan satu lagi seorang anak laki-laki yang sedang menyelesaikan studi S2 di kota Semarang. Beliau banyak bercerita tentang anak bungsunya ini, mulai dari mengapa dia menamakan anak bungsunya Edi Sugiharto. Ya, nama dalam bahasa jawa ini mengandung arti sebuah doa dari orang tua untuk sang anak agar memiliki cukup uang. Beliau juga mengatakan bahwa anak bungsunya ini lain sendiri dari anak-anaknya. Bisa sekolah sampai perguruan tinggi di kota Semarang dan bahkan bisa melanjutkan S2. Di kota itu anaknya juga mempunyai usaha jasa service jam tangan. Bahkan beliau juga memperlihatkan foto anaknya yang sedang wisuda. Beliau sangat bangga pada anaknya, justru lebih respek pada sang anak. Semua hal menyimpang yang pernah dilakukan lambat laun telah sirna karena saran dari sang anak. Kata Beliau anak bungsunya itu sangat pendiam, dan patuh pada agama selain itu juga pandai.

Waktu masih muda pernah mendaftar jadi tentara dan sudah lulus pendidikan, namun karena penempatan di luar pulau Jawa, oleh orang tua dilarang. Sehingga beliau tak jadi tentara beneran, walau sering aku lihat memakai asesori tentara, topi, baju dan celana. Dengan bangga menceritakan ketika mengendarai sepeda motor dengan SIM yang sudah kadaluarsa bisa sampai Solo. Pernah seorang polisi menanyakan kelengkapan surat-surat motor dan SIM saat operasi lalu-lintas , beliau bisa lolos. Motornya Honda Astrea prima , ingin mengganti dengan alpha (Yamaha), ketika kuberitahu kalo bensin lebih boros beliau pikir tak ada masalah. Beliau merasa nyaman dengan suaranya yang agak keras mungkin menambah wibawa yang naik. Tak lupa tiap hari membawa radio kesayanganya, dan mendengarkan acara favoritenya musik jawa.

Aku pernah disarankan untuk memakai jam tangan bagus, aku minta beliau carikan. Setelah berapa lama aku konfirmasi, rupanya belum ada. Waktu aku lihat beliau memakai jam warna hitam favoritenya, dalam hati aku memilih jam itu. Menurutku sangat cocok untukku, aku menyukainya dan terkesan simple, meski tak baru. Tapi aku tak mengatakan secara langsung, hingga di lain hari beliau menawarkan jam tersebut padaku langsung saja aku terima. Padahal jam favorite itu pernah diminta sama anak bungsunya tapi beliau tidak kasih. Meski aku tak meminta secara langsung aku justru mewarisi darinya. Aku tak tahu benar atau tidak yang beliau katakan padaku, jam yang aku pakai sesuai dengan keinginanku.

Warung Soto Ayam Mulud

Feel The Taste of Our Soto!
So Delicious

By Hari
Jalan Pasar Cawas - Pedan
Sentul Cawas