We Want to Be The Sun or The Moon more than The Star
Ya Tuhan, Jadikanlah kami seperti Matahari, seperti Bulan dan seperti Bintang-Bintang
Terima kasih atas kunjungan anda!
Sabtu, 28 Februari 2009
Buruh Tani Kalah Sama Mesin
Ya di daerah kami kota Kecamatan Cawas sedang musim panen padi. Panen kali ini lain sekali dibandingkan dulu. Selain berlangsung cepat, juga penggunaan mesin perontok diesel. Tak sampai seminggu sudah banyak area persawahan yang selesai dipanen, padahal beberapa tahun lalu biasanya perlu waktu dua minggu. Mesin perontok padi dulu masih menggunakan tuas pedal (bahasa jawa erek) dan untuk menggerakkan diperlukan dua orang yang mengayuh di sebelah kanan dan kiri. Kedua tangan mereka memegang dan memasukkan batang padi yang telah disiapkan penyaji. Dua orang penyaji ini menyajikan tanaman padi dari tumpukan padi di sekitar erek. Dua orang di depan erek yang bertugas memilahkan antara padi dan kotoran jerami kemudian dimasukkan ke dalam karung dan dijahit. Selain mereka beberapa orang masih diperlukan untuk mengumpulkan tanaman padi yang telah dipotong ke dalam satu tempat dimana erek berada. Dan beberapa orang lain yang bertugas memotong tanaman padi sampai selesai. Sebelum kegiatan mengerek dimulai semua pekerja memotong padi secara bersama-sama, setelah mendapatkan separoh area kegiatan mengerek dimulai. Agar bisa bekerja maksimal diperlukan 8-15 orang, masing-masing bertugas sesuai dengan keahliannya. Untuk areal 1200 meter persegi harus berusaha selesai dalam satu hari, biasa sampai jam 4 sore.
Tahun ini panen di daerah kami lain sekali. Banyak sekali mesin perontok padi yang datang dari luar daerah menawarkan jasa, jumlahnya mencapai puluhan. Hampir tiap area di persawahan kita temukan mesin ini. Mereka teridri dari 3 orang yang bekerja di mesin dan 5-8 orang lagi yang bertugas memotong padi dan mengumpulkan di pinggir jalan terdekat. Dalam satu hari mereka bisa mengerjakan beberapa petak sawah. Setiap petak lahan hanya membayar sejumlah 250-300 ribu tergantung luas area yang dipanen. Kehadiran mesin-mesin perontok padi ini juga mempersingkat pekerjaan, untuk satu areal bisa dilakukan hanya dalam hitungan 2-3 jam. Jauh lebih cepat jika dibandingkan menggunakan perontok padi tenaga manusia erek.
Kehadiran mesin ini di satu sisi sangat cepat dan memudahkan bagi para petani. Namun disisi lain mengurangi tenaga kerja buruh tani yang biasa berasal dari daerah lain. Beberapa tahun lalu kita masih banyak menemui banyak buruh tani yang menawarkan jasa tenaga bagi para petani. Dan jasa mereka semua hampir tiap musim panen bisa digunakan oleh para petani. Namun kali ini mereka kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan di musim panen. Beberapa tahun lalu mereka para buruh tani berangakat pagi hari (setelah subuh) dan di sore hari mereka bisa pulang membawa padi beberapa puluh kilo (10-25Kg)sebagai upah. Upah laki-laki biasanya 2 kali lebih banyak dari perempuan, karena banyak tenaga yang dikeluarkan bagi kaum laki-laki (bapak-bapak). Selain itu juga mereka sudah mendapatkan makan pagi dan siang, bahkan kalo beruntung di sore hari mendapatkan makanan ringan. Padi yang mereka dapatkan dari buruh mereka dapat digunakan untuk persediaan hidup mereka. Paling tidak mereka masih punya beras untuk bisa makan, di luar musim panen mereka bekerja di luar kota jualan es atau bakso. Mereka para buruh tani tak ada pilihan selain itu, karena rata-rata mereka tidak punya lahan atau sawah. Lahan di sekitar rumah mereka tidak cocok untuk tanaman padi, sebagian besar ditanam ketela pohon atau pepohonan. Sepertinya musim panen adalah berkah juga bagi mereka.
Namun musim panen kali ini mereka para buruh tani, meski berangkat pagi pulang tak membawa hasil. Terlihat dari mereka masih belum mendapatkan area sawah meski sinar matahari sudah menyengat. Biasanya mereka terus pulang tanpa membawa sesuatu yang mereka harapkan, upah padi. Bagi mereka yang memiliki ternak di rumah, biasanya sambil membawa jerami untuk barang bawaan, kali ini tanpa padi.
Sebuah delima, perkembangan teknologi menggeser tenaga manusia, kecepatan dan kemudahannya membuat sebagian orang menjadi tak mendapatkan pekerjaan. Meski demikian di kalangan para petani mereka juga disibukkan dengan permasalahan pupuk, biaya produksi pertanian yang cenderung meningkat. Mereka bebas memilih mau menggunakan teknologi perontok bermesin atau masih dengan perontok tenaga manusia.
Jumat, 05 Desember 2008
Sedikit Untuk Bapak
Beberapa hari ini, inginku melakukan sesuatu untuk bapak. Musim tanam padi kali ini, bapak bingung dengan menghilangkan pupuk di pasaran. Kebutuhan pupuk tanaman sangat banyak, namun untuk mencari satu sak pupuk saja perlu waktu 2 minggu. Tiap kali datang ke pengecer pupuk tak ada, menunggu adalah jawaban yang sering bapak dengar. Sempat berpikir aku untuk membantu bapak mencari pupuk di luar daerah. Dan kemarin tanpa sengaja ada orang yang menginformasikan pupuk meski dengan harga yang tidak wajar. Akupun senang mendengarnya, lalu kuminta teman tersebut mencarikannya untukku. Setelah konfirmasi beberapa kali, aku bisa mendapatkan pupuk sesuai dengan jumlah yang bapak perlukan, dan jika masih perlu lagi masih ada beberapa lagi dari penjual. Aku bawa pupuk ke rumah dan aku melihat bapak senang/tenang karena apa yang bapak cari berminggu-minggu ada di tangan. Aku tidak mengatakan berapa jumlah yang harus aku bayarkan pada penjual meski bapak sedikit memaksa, aku tak ingin membuat bapak atau simbok nanti malah kecewa. Aku hanya katakan, disaat kritis kita harus melakukan hal yang ekstrim. Hal yang diluar kebiasaannya, meski dengan sedikit beresiko. Banyak orang berhasil karena keberanian dalam menghadapi resiko yang telah diperhitungkan.
Begini hukum pasar berlaku, ketika jumlah permintaan meningkat dan dengan jumlah barang yang terbatas maka penjual bisa menentukan harga. Saat itu aku tidak memikirkan harga, aku hanya ingin menyelesaikan persoalan yang bapak hadapi. Meski penyelesaian yang kulakukan mungkin bukan yang terbaik (jika fokus pada jumlah uang) menurut orang lain. Bagiku itu terbaik, aku berpikir apa yang bapak/kami perlukan bisa kami dapatkan meski kami harus membayar lebih. Aku kawatir dengan kondisi bapak beberapa hari ini, kesehatan baru berangsur-angsur pulih, dibebani dengan beberapa masalah. Apa yang bapak lihat masalah yang dihadapi sangat serius, meski menurut orang lain mungkin menganggap hal tersebut bukan masalah. Setiap orang mempunyai pandangan yang lain pada sebuah persoalan yang sama, tergantung dari latar belakang, tingkat pendidikan dan pengetahuan yang mereka miliki. Seperti masalah pupuk yang bapak hadapi, aku tidak terlalu merisaukannya lain dengan bapak. Aku tidak terlalu memperdulikananya, aku tidak memerlukannya! Aku hanya kasihan saja dengan bapak juga para petani lainnya. Meski aku tahu rasa itu tidak menyelesaikan masalah mereka, itu diluar jangkauanku. Aku coba sedikit membantu untuk bapak dengan melakukan hal yang kecil pula.
Apa yang telah kulakukan menurutku belum seberapa dengan perjuangan bapak untuk keluarga. Andai saja kesempatan datang lagi, aku sangat senang sekali melakukan untuk bapak.
Aku pikir dengan keberhasilanku di akhir tahun ini akan sedikit impas dengan apa yang selama ini bapak lakukan untukku. Namun aku juga belum tau itu jalan terbaik untukku, siapa yang tahu kehidupan haris esok, hanya Allah lah yang tahu.
Jumat, 19 September 2008
Bapakku Petani Hebat

digunakan dan tanpa karung. Bapak terkenal dengan orang kaya di desa kami, Ya Kaya akan Padi..................! Jika hasil panen dimakan sekeluarga sendiri saja mungkin sepuluh tahun belum habis.
Karena sibuk dengan pertanian inilah mungkin bapak sudah enggan narik becak lagi. Kan sudah banyak pekerjaan yang menunggu untuk diselesaikan. Dan mengetahui cerita bapak waktu dulu itu, aku tidak pernah mau untuk naik becak ketika di kota. Aku lebih suka berjalan kaki setelah naik angkutan, meski membawa barang yang lumayan berat. Rasanya jika aku naik becak, ingat kalo sang penarik becaknya adalah bapak.
Warung Soto Ayam Mulud
So Delicious
By Hari
Jalan Pasar Cawas - Pedan
Sentul Cawas